Wednesday, September 19, 2012

Menjaga Rahasia Anak


Saya sempat bertengkar hebat dengan anak saya, setelah secara tidak sadar, saya berceloteh panjang lebar tentang prilakunya yang sedang menaksir lawan jenisnya. Saya cerita tentang sikapnya yang mellow dan suka lagu-lagu romantis sejak ditaksir kakak kelasnya di sekolah, ungkap seorang ibu. ketersinggungan anak terhadap 'kelancangan' ibunya itu berbuntut panjang. "anak  ngambek dan gak mau bicara dengan saya selama tiga minggu, hanya karena keteledoran saya ngegosip sama teman-teman".

Apa yang dihadapi oleh seorang ibu tersebut adalah bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak-anaknya.sehingga terkadang orangtua tidak menyadari anaknya sudah dewasa. Rahasia terbesar yang harus dijaga oleh setiap orangtua tentang anaknya adalah ketika anaknya mulai menyukai lawan jenisnya. Karena ini biasanya adalah masalah yang sangat pribadi bagi seorang anak. Anak biasanya tidak ingin semua orang tahu tentang perilaku dirinya ketika sedang menyukai seseorang.Padahal bila anak semakin besar, orangtua perlu semakin memperhatikan dan menghormati privasi anak, "setiap anak pasti memiliki privasi yang tidak dibeberkan terbuka kepada orang lain. Semakin anak tumbuh biasanya keinginan untuk mandiri dan memiliki privasi semakin tinggi. Ia mungkin mulai mempunyai rahasia yang tidak ingin ia ceritakan pada orngtuanya, atau yang ia pikir orangtuanya tidak perlu tahu.

Bila anaknya bicara yang dimulai dengan imbauan "ma, ini hanya rahasia kita berdua saja ya, orang lain tidak perlu tahu bahkan papa sekalipun, sang ibu harus bersiap-siap untuk menjaga rahasia tersebut. Ibu harus memiliki kepekaan yang tinggi akan hal ini. Jika ini dilanggar,  bukan mustahil kepercayaan seorang anak terhadap orangtuanya akan luntur. Efeknya, bisa menjadi trauma pada si anak dan jadi enggan terbuka kepada orangtuanya.
Curhat vs  rahasia

Pada dasarnya, curhat atau mencurahkan isi hati  biasanya mulai dilakukan oleh anak 6-12 tahun. Namun isi curhatnya tidak sedalam orang dewasa. Umumnya masih bersipat ringan, atau minatnya pada sesuatu atau soal lawan jenisnya yang menarik perhatiannya. Semakin besar usia anak, seiring juga dengan pengalaman hidup yang dialaminya, jenis curhat akan semakin beragam dan mendalam.

Hanya saja, kadang-kadang ketika sang anak mulai mencurahkan isi hatinya, orangtua kerap abai untuk menahan diri.  tidak sedikit orangtua yang secara tidak sadar suka mengumbar rahasia anak kepada orang lain. pengalaman ini biasanya hanya terjadi pada ibu. Padahal banyak anak  yang berharap orangtuanya bisa mengerti topik pembicaraan apa saja yang sifatnya rahasia dan apa yang tidak.

Orangtua memang kerap lancang bercerita tentang apa yang dihadapinya anaknya. Ia bisa saja terjadi karena setiap orangtua pada dasarnya begitu ingin membimbing dan melindungi anaknya ke jalan yang benar. Hanya saja kadang-kadang jalan itu akhirnya kerap melanggar privasi anak.Kalau privasinya terlanggar maupun rahasianya diungkap, banyak anak yang kemudian menutup diri dan cenderung menghindar dari orangtuanya.

Padahal ketertutupan anak, kerap membuat orangtua semakin ingin tah, sehingga terpancing untuk semakin melanggar privasi anak.Tidak mengherankan jika banyak orangtua yang sengaja "mencuri' membaca buku harian anaknya, menggeledah kamar anaknya "mengintrogasi" teman-temannya hanya karena ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan anaknya.

Sebaiknya orang tua perlu membedakan antara hal-hal yang perlu diketahui dan  hal-hal yang tidak perlu diketahui. Bicarakan hal-hal yang perlu diketahui dengan mereka. Let it go, hal-hal yang tidak perlu diketahui. Terkadang anak menganggap  orangtuanya belum saatnya mengetahui masalah yang dihadapinya. Dalam menghadapi kondisi ini, biarkan dan awasi tingkah  lakunya, jangan didekte atau dilarang, karena ini nanti akan menghambat komunikasi secara terbuka anak kepada orangtuanya.

Anak introvert dan ekstrovert
Soal curhat, tidak selamanya anak percaya, temanadalah sahabat yang baik untuk menjaga rahasianya. "semua tergantung pada keperibadian anak"  Si ekstrovert, umpamanya, karena keperibadian terbuka, akan lebih sreg kalau hatinya ditumpahkan kepada orang lain, supaya lebih plong. Bahkan si ekstrovert bisa melakuakan curhat pada banyak teman-teman. Jadi tak terbatas hanya pada orang yang itu-itu saja.

Sebaliknya, anak intovert umumnya enggan curhat. Kalaupun mau mengeluarkan unek-unek, ia lebih memilih membuat puisi, menulis diari, menggambar, atau sejenisnya. Nah, kalau ada anggapan bahwa anak perempuan lebih sering melakukan curhat ketimbang anak laki-laki, baik anak perempuan maupun laki-laki mempunyai kebutuhan yang sama untuk mencurahkan isi hatinya. Bedanya mungkin hanya pada caranya saja. Ketika curhat, anak perempuan bisa menceritakan dari A sampai Z suatu persoalan.  Sementara anak laki-laki biasanya lebih singkat dan langsung pada inti masalahnya.

Curhat yang wajar dan yang tidak
curhat jelas bukan perilaku negatif karena manusia pada dasarnya butuh mengeluarkan unek-unek, butuh didengar, dan butuh diperhatikan. Dengan curhat, anak bisa meringankan beban masalah yang sedang dihadapinya syukur-syukur bisa mendapat solusi atau setidaknya dukungan semangat dari teman curhatnya itu.
Justru anak yang sama sekali tidak mau mengungkapkan isi hatinya, terkadang memendam masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Dengan memendam masalah, berarti ia dituntut menyelesaikan sendiri. Padahal mungkin saja belum mampu untuk itu dan membutuhkan bantuan orang lain.

Namun begitu, perilaku curhat bisa juga membawa dampak negatif. Hal ini terjadi karena cara berpikir anak yang belum bijak, sehingga saran teman-teman yang tidak bisa ditelannya mentah-mentah sebagai suatu solusi. Belum lagi, bila curhat pada teman ini sudah dijadikan suatu kebiasaan.

ujung-ujungnya apa pun permasalahan yang dihadapi anak, akan diungkapkan pada teman-temannya. Termasuk soal keluarga, soal orangtuanya yang suka bertengkar, soal ayahnya yang jarang pulang, soal gaji ayahnya yang sangat besar, soal ibunya yng beli peralatan elektronik mutahir, dan sebagainya. Kalau ini terjadi, curhat bukan lagi suatu yang positif karena akanmengumbar rahasia keluraga yang seharusnya hanya diketahui orang-orangtertentu saja. mungkin saja tanpa disadari, citra anak menjadi negatif di mata kawan-kawanya sehingga bisa dijadikan bahan ejekan ketika hubungan dengan teman-temannya merenggang.

Bila curhat anak ke teman-temanya masih wajar-wajar saja, dalam artian tidak menceritakan permasalahan keluarga, orangtua tidak perlu merisaukannya. Trekadang curhat antar teman dibutuhkan sebagai cara pengekspresian diri, ajang bergaul, untuk mencari teman bergaul baru. Namun bila curhat anak sudah melenceng menyentuh masalah internal keluarga, perlu diluruskan.

Dalam menyikapi masalah ini, orangtua perlu melakukan intropeksi diri karena beberapa penyebab anak lebih memilih curhat  pada temannya ada kaitannya dengan orangtua yang bernasalah. Jangan -jangan selama ini orangtua tidak pernah mendengarkan segala unek-unek dan keluh kesahnya. kalau memang demikian, orangtua perlu membenahi keembali hubungannya yang renggang dengan baik.

Sebagai langkah awal, orangtua mendekati anaknya kembali. Saat anak mencoba curhat, munculkan sikap impati dan dengarkan cerita anak dengan seksama, jangan menghakimi. jika isi curhatnya merupakan permasalahan yang dihadapi anak, berikan solusi penyelesaian sesuai dengan kemampunnya.

Setelah itu barulah anak diajak berdiskusi soal untung rugi menceritakan rahasia keluraga pada orang lain. Gunakan kata-kata sederhana seraya menjabarkan apa akibat yang akan diterimanya saat ia melaukan curhat pada sembarang orang. Diskusi dari hati akan membuat anak berpikir dua kali menceritakan rahasia kelurga.

Monday, September 17, 2012

Mengapa Puzzle baik untuk perkembangan anak Anda

Anda mungkin pernah mendengar bahwa Puzzle baik untuk anak Anda pikiran dan perkembangan kognitif; Bahkan, Anda mungkin menerima Puzzle sebagai baby shower atau hadiah bayi baru. Tapi mengapa Puzzle dianggap membantu perkembangan mental anak? Berikut adalah beberapa alasan.

Dunia di sekitar mereka

Psikolog telah menentukan bahwa perkembangan otak anak dipengaruhi secara signifikan ketika anak-anak bertindak pada atau memanipulasi dunia di sekitarnya. Puzzle menyediakan kesempatan kata kunci. Anak-anak belajar untuk bekerja secara langsung dengan lingkungan mereka dan mengubah bentuk dan penampilan ketika mereka bermain dengan Puzzle.

Tangan-mata Koordinasi

Ketika anak membalik,me mutar, menghapus, dll potongan dari Puzzle, mereka mempelajari hubungan antara tangan dan mata mereka. Mata melihat Puzzle, dan otak kemudian membayangkan apakah potongan perlu ditemukan dan ditempatkan. Kemudian otak, mata, dan tangan bekerja sama untuk menemukan potongan, memanipulasi agar sesuai dan cocok menjadi Puzzle akurat.

Baik untuk perkembangan motorik

Serupa dengan koordinasi tangan-mata yang telah dicapai, Puzzle memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan motorik halus. Tidak perlu bingung dengan keterampilan motorik kasar seperti berjalan, keterampilan motorik halus memerlukan sedikit keahlian, gerakan khusus yang memberikan Puzzle. Keterampilan motorik halus yang diperlukan untuk tulisan tangan dan prestasi penting lainnya.

Batas keterampilan motorik

Untuk bayi dan anak-anak, keterampilan motorik dapat ditingkatkan dengan susun blok dan lain Puzzle yang lebih rumit yang nantinya mudah dimanipulasi.

Pemecahan masalah

Keterampilan pemecahan masalah yang efektif adalah salah satu yang berharga dan penting. Sebagai seorang anak melihat berbagai potongan dan tokoh dimana mereka tahu cocok atau tidak cocok, ia sedang mengembangkan keterampilan penting. Sebuah Puzzle, tidak dapat diselesaikan dengan cara menipu! Ia bekerja baik dan cocok atau tidak. Jadi Puzzle mengajar anak-anak untuk menggunakan pikiran mereka sendiri untuk mencari cara untuk memecahkan masalah dan berpikir dengan cara yang logis ..

Bentuk Pengakuan

Untuk anak-anak - bahkan bayi - belajar untuk mengenali dan memilah bentuk merupakan bagian penting dari perkembangan mereka. Dengan ini Puzzle dapat membantu anak-anak kecil, karena potongan perlu diakui dan diurutkan sebelum mereka dapat dirakit.

Ingatan

Puzzle sederhana dan dari jenis jenis dan Puzzle dapat membantu meningkatkan memori anak. Misalnya, seorang anak akan perlu mengingat ukuran, warna dan bentuk berbagai potongan karena ia bekerja melalui Puzzle. Jika sepotong tidak cocok, anak set ke samping, tetapi dia harus ingat ketika potongan lain diperlukan.

Menetapkan Tujuan Kecil

Sebagai seorang anak belajar pada sebuah pada sebuah permainan Puzzle, ia akan sering mengembangkan strategi untuk melakukannya agar i lebih cepat dan lebih efisien. Ia dapat melakukan semua potongan tepi pertama, misalnya, atau menyortir semua potongan ke dalam tumpukan sesuai dengan warna atau bentuk. Ini membantu anak belajar untuk mencapai tujuan-tujuan kecil sebagai sarana menuju tujuan yang lebih besar.

Sunday, September 16, 2012

Internet untuk anak-anak: Aman atau berbahaya?

Internet adalah salah satu penemuan yang paling populer dalam sejarah kita.Jutaan orang dari seluruh dunia menggunakannya secara teratur untuk berkomunikasi, mendapatkan dan mengirimkan informasi dan bermain game. Ketika orang-orang di internet, mereka dapat menerima gambar, teks, suara dan bahkan video melalui komputer mereka. Namun, menggunakan internet dapat memiliki dampak berbeda dan efek pada anak-anak di usia yang berbeda dan tahap-tahap perkembangan mereka. Menurut ilmuwan yang telah melakukan beberapa penelitian tentang masalah ini, internet dapat memiliki efek positif dan negatif pada orang-orang muda.

Hari ini internet telah menjadi bagian dari lingkungan anak-anak. Kebanyakan dari mereka memiliki akses ke Internet di sekolah dan di rumah, menggunakannya untuk bermain game, menulis e-mail, web browsing, download, berbagi file, mengobrol dan pesan teks. Kedua orang tua dan guru mempertimbangkan internet untuk menjadi alat pendidikan, berpikir bahwa itu membantu anak-anak dengan proses belajar.

Untuk efek positif virtual reality, mengingat ini sebagai bagian dari dunia kita, baik untuk anak-anak untuk tahu bagaimana menggunakan komputer dan internet. Mereka dapat digunakan untuk mencari artikel yang berguna dan bahan untuk sekolah. Juga mereka dapat melakukan pekerjaan rumah mereka pada komputer daripada menghabiskan waktu untuk menulis.

Web browsing memberikan anak-anak kemungkinan untuk belajar tentang hal-hal yang baru dalam hidup, seperti negara-negara lain dan budaya, mengetahui tentang kebiasaan mereka, bahasa dan menemukan bagaimana orang hidup di seluruh dunia. Anak-anak juga dapat berkomunikasi dengan teman-teman dan kerabat mereka bahkan ketika mereka berada ribuan mil jauhnya. Selain itu, mereka dapat membuat teman-teman di luar negeri, dan bahkan dapat berbicara satu sama lain menggunakan keuntungan dari web cam. Ada jutaan situs aman untuk anak-anak di net untuk menemukan informasi yang berguna, menyenangkan permainan komputer dan hiburan, tetapi anak-anak dapat juga terkena berbeda perangkap dan bahaya.

Internet adalah sebuah lingkungan untuk dewasa auditori, di mana ada hampir tidak ada peraturan atau kontrol pada apa yang dapat ditempatkan di atasnya. Beberapa situs web tampaknya cukup berbahaya dan lucu. Namun, ada banyak informasi dan konten yang dapat berbahaya bagi anak-anak dan merusak perkembangan mereka.

Kebanyakan orangtua tidak menyadari bahwa mungkin ada bahaya yang terlibat ketika anak-anak mereka pergi online. Ketika anak-anak menjelajahi web, mereka dapat dengan mudah tergoda ke sesuatu yang tidak tepat dan bahkan mendapatkan gangguan. Ketika anak-anak mulai berkomunikasi dengan orang asing secara online, mereka tidak tahu atau memahami bahwa mereka dapat benar-benar berbicara dengan orang yang tidak tepat atau orang berbahaya. Ada beberapa kasus aktual yang menerima perhatian nasional tentang orang-orang muda bertemu dengan seseorang dari internet dan kemudian, yang dirugikan atau diculik.

Hal lain adalah bahwa banyak anak-anak menggunakan internet hanya untuk bermain game, dan bukan untuk keperluan belajar. Mereka duduk di depan layar selama berjam-jam, yang pada gilirannya dapat menyebabkan sakit kepala, backaches atau masalah penglihatan. Terlalu banyak duduk oleh komputer dapat tidak sehat dan mengakibatkan juga repetitif stres cedera, obesitas dan isolasi sosial.

Ada banyak situs web tidak cocok untuk anak-anak, misalnya situs porno, situs mempromosikan kekerasan, sekte dan seterusnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekerasan di sebagian besar bersumber dari media seperti film, video, TV, permainan komputer dan Internet dapat memiliki efek yang sangat negatif pada anak-anak atau anak-anak muda.

Pada umumnya anak laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam Internet tingkat yang sama.Menulis e-mail, mencari, dan pesan instan adalah tiga kegiatan puncak untuk gadis-gadis dan anak laki-laki. Kedua jenis kelamin mengambil bagian dalam chat room, dan melihat halaman rumah pribadi. Namun, gadis-gadis lebih mungkin untuk menggunakan Internet untuk tujuan pendidikan, sekolah, musik dan belanja. Dan anak-anak apa lebih tertarik pada teknologi, hiburan dan permainan. Secara keseluruhan, tidak ada statistik perbedaan dalam proporsi anak perempuan dan anak-anak yang menggunakan Internet.

Seperti dengan bidang-bidang lain kehidupan anak-anak mereka, orang-tua mempunyai tanggung-jawab yang besar untuk membimbing dan menjaga mereka dan untuk menetapkan batas-batas yang jelas untuk apa yang anak-anak lakukan. Orangtua perlu memahami dampak dari teknologi dan tahu semua waktu untuk apa yang tepat anak mereka mengakses di web. Orang tua harus selalu berbicara dengan anak-anak mereka tentang apa online dan apa yang mungkin terjadi secara online. Orang tua dapat mengurangi risiko untuk anak-anak mereka dan membuat aturan untuk mengetahui apa kepentingan anak-anak mereka. Waktu yang anak-anak menghabiskan di depan TV dan komputer harus ada keseimbangan dengan waktu di dunia nyata dengan orang-orang yang nyata.

Tuesday, September 4, 2012

Lindungi Anak Dari Aliran Sesat

Perubahan perilaku anak karena pengaruh aliran yang mengatas namakan agama tertentu, memang bukan perkara mudah menghadapinya. Apalagi bila orangtua tidak memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang mumpuni. Jangankan membendung desakan aliran tersebut pada anak, sekedar untuk memastikan apakah aliran itu sesat atau bukan, sudah persoalan sendiri.


Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diartikan sesat adalah ketika aliran tersebut sudah bertentangan dengan Al Quran dan Hadist. Selain itu ada pokok-pokok agama yang berbeda dengan dengan ajaran yang sebenarnya seperti rukun Islam, rukun islam, rukun imam, syahadat, puasa, zakat, dan lain-lain. Lebih jelasnya terdapat 10 ciri dimana aliran sesat tersebut dapat dikatakan sebagai aliran sesat.

Diantaranya, mengingkari rukun Islam dan Iman, meyakini aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, mengakui adanya wahyu setelah Al-Quran, mengingkari kebenaran isi Al-Quran, membuat tafsiran baru yang tidak menurut kaidah penafsiran, mengingkari kedudukan Hadist nabi Muhammad, menghina para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir, mengubah atau menambah pokok-pokok ibadah, dan mengkafirkan sesama muslim.

Fenomena aliran sesat bukan hanya dihadapi kaum Muslim, agama lain menghadapi permasalahan yang sama. Misalnya kristen, Ada dua pengaruh masuknya aliran sesat ini. pertama, masuknya pengaruh konteks budaya atau agama setempat. Kedua, adanya kekosangan atau kekurangan tertentu dalam gereja asalnya.

Muncul silih berganti
Hadirnya aliran-aliran yang dianggap menyimpang sebenarnya sudah sejak lama, sempat beredar dan berkembang di Indonesia. Tumbuhnya aliran sesat ini antara lain dipicu oleh beberapa persoalan didalam sebuah negara. Sebab munculnya aliran yang dianggap sesat bukan hanya di Indonesia , tetapi juga diluar negeri. Amerika sekalipun bisa dimasuki oleh aliran- aliran yang dianggap sesat ini, tetapi jenis dan bentuknya yang berbeda.

Biasanya aliran ini muncul ketika ada orang-orang yang sedang kehilangan pegangan, dan mencari seorang tokoh yang berkharisma. khususnya para generasi muda yang membutuhkan dan mencari tokoh yang bisa diandalkan untuk diikuti. Munculnya seorang tokoh kharismatik ditengah-tengah keadaan yang kacau, seperti hukum yang tidak berlaku, nilai-nilai yang tidak jelas dan lain-lain, akan mudah menjerumuskan orang-orang tersebut. Apalagi kaum muda remaja yang sangat mudah terpengaruh akan aliran seperti ini. Tetapi yang perlu diperhatikan ternyata bukan hanya kaum muda saja terpengaruh, orangtua dan tokoh agama juga banyak yang terpengaruh oleh aliran-aliran yang dianggap sesat ini.

Penyebab berbagai aliran sesat ini, pada umumnya menjadikan remaja dan pelajar sebagai target. Dengan bermodalkan kepiawaian dalam berkomunikasi dan sangat persuasif dalam mengajak, para utusan aliran tersebut berusaha masuk ke kalangan remaja. Apalagi biasanya kelompok beraliran sesat ini mempunyai motif materi dan motif ekonomi, sehingga masyarakat yang menginginkan jalan pintas untuk mendapatkan kebahagian biasanya mudah terpengaruh. misalnya, dengan Rp. 400 Ribu bisa masuk surga, atau jemaat yang dapat merekrut jemaat baru alan mendapatkan beberapa ratus ribu, dan lain-lain.

Masa remaja memang masa dimana seorang anak sedang mencari jati dirinya, berusaha mencari teman, berusaha lepas dari pengaruh orangtua dan berpetualang mencari eksistensi diri. Aliran-aliran fundamintalis cenderung berupaya merekrut anak usia remaja, karena mereka masih dalam pembentukan diri, dan sangat tertarik dengan hal baru. Pada usia ini anak mentransformasikan semua informasi yang masuk dan kemudian akan menentukan sikapnya. Namun mereka cenderung lebih tertarik pada sesuatu yang baru yang mereka anggap militan.

Ada beberapa hal yang diperlihatkan si anak ketika sudah terpengaruh sesuatu. Diantaranya, terjadi perubahan drastis pada si anak. Misalnya, anak yang tadinya sangat komunikatif, jadi sering mengurung diri atau malah sering pergi sendiri. Selain itu anak seperti itu memiliki rahasia yang pantang diketahui atau share kepada anggota keluarga, suka menyendiri, sering merenung, dan biasanya tidak mau menjelaskan apa yang sedang mereka alami.

Bentengi anak
Bukan hanya gejala yang harus diperhatikan, peran orangtua sangat diperlukan untuk melindungi anak dari jerat aliran sesat. Hal utama yang harus dilakukan oleh orangtua adalah komunikasi dua arah dengan anak, terbuka. Membekali anak dengan spiritual yang kuat, serta berusaha mengetahui ajaran-ajaran yang sedang berkembang saat ini. Yang juga penting adalah memperhatikan isi kamar anak karena biasanya mereka mengikuti aliran-aliran seperti ini senang membaca buku-buku spiritual dan religius.

Proses penyebaran biasanya dilakukan melalui berbagai kegiatan keagamaan dengan materi kajian agama, penjabaran, dan kemudian di ikuti proses penyesatan. oleh karena itu orangtua perlu memberi pemahaman kepada anak agar tidak mudah percaya kepada orang lain yang menjanjikan kemudahan dan kepastian.



Tuesday, August 21, 2012

Aku Ingin Bebas

Masa remaja itu memang masa mulai senang-senangnya berkumpul bersama teman temannya,hal ini adalah sebuah proses normal yang terjadi pada remaja. Jika pada tahap sebelumnya anak baru belajar mulai masuk dalam kelompok, maka pada tahap remaja, anak justru sudah masuk kedalam kelompok dan mulai membentuk identitasnya.

Pada usia remaja, kelompok teman sebaya memang menjadi lingkungan yang paling penting dan menjadi acuan dalam pencarian identitas diri. Melalui sosialisasi dan kegiatan bersama teman sebaya, remaja mengembangkan kemandiriannya, berusaha mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya, sehingga tercipta rasa aman.

Adalah wajar pula jika seorang anak remaja mulai berusaha melepaskan diri dari ketergantungan kepada orangtua. Bahkan menjadi mandiri dan tidak tergantung kepada oranglain merupakan kebutuhan psikologis dan menjadi salah satu bagian perkembangan remaja. Anak harus belajar mengambil keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya.

Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar. Jika tidak respon secara tepat bisa berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya, dan bisa mempengaruhi masa depannya. Karena itu orangtua perlu memberikan kebebasan pada anak. kalau tidak, anak tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan. Mereka juga pasti akan kabur-kaburan dan sembunyi-sembunyi di belakang. Padahal jika anak tidak belajar mengambil keputusan, dikhawatirkan ketika waktunya harus membuat keputusan kritis, dia tidak dapat melakukannya atau justru mengambil keputusan salah.

Dampak negatif lainnya adalah anak menjadi tidak mandiri. Masa remaja adalah masa mempraktekkan atau melatih kemampuan diri sendiri. Mengatur diri sendiri itu mulai dirintis di usia 7-11 tahun. Tetapi latihan, atau prakteknya di usia remaja, sehingga saat dewasa mereka sudah bisa menyusun sendiri rencana kehidupannya.

Peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirianya. Di dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Pada masa remaja pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua dalam meningkatkan kemandirian ana-anaknya amatlah krusial.

Oleh karena itu, orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Dengan demikian, anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sebelumnya tergantung penuh pada orangtua.

Tes Kelayakan Anak
Meski anak perlu diberikan kebebasan, namun tidak bisa diberikan begitu saja, dan harus secara bertahap. Misalnya, pertama-tama anak diberi kebebasan untuk pergi bersama teman-temanya selama 2 jam, kemudian meningkat menjadi 3 jam, 4 jam sampai lama-lama boleh pergi di malam hari dengan memberlakukan jam malam. Orangtua perlu melakukan semacam pemeriksaan apakah anak itu sudah layak diberi kebebasan atau belum. Bila hasil tes menunjukkan anak memang belum layak, jangan dipaksakan. Jadi, biarkan anak menunjukkan bahwa dia memang mampu bertanggung jawab pada hal-hal kecil, baru berikan kebesan yang lebih besar. Setelah anak mampu meningkatkan kemampuan, berikan lagi kebebasan yang lebih besar.

Sejauh mana kebebasan dapat diberikan pada remaja, bisa dilihat segi usia dan kemampuannya. Terkait dengan usia anak, misalnya tidak pada tempatnya memberikan kebebasan pada anak usia 13 tahun atau kelas 1 SMP untuk keluyuran hingga jam 2 pagi. Sedangkan dari segi kemampuan, misalnya dengan memberi kesempatan kepada anak untuk menekuni olahraga, kesenian, atau aktivitas lain yang diminati. Selama anak dapat menunjukkan kemampuan untuk bertanggung jawab dan dapat mengatur waktu, boleh-boleh saja.

Orangtua perlu mengimbangi kebebasan yang diberikan dengan pengawasan yang tepat, memberikan batasan, serta mengingatkan anak akan norma yang berlaku.


Monday, August 20, 2012

Life Skill, Bekal Masa Depan Anak

Life skill atau kecakapan hidup memang tak memberikan sertifikasi bagi lulusannya, tapi sangat berperan dalam pencapaian kesuksesan anak kelak. Dalam kehidupan dunia yang mengglobal diperlukan pribadi yang matang untuk bertahan (survive). Untuk menghadapi kondisi tersebut, orangtua perlu mempersiapkan anak, agar tidak hanya mampu bertahan hidup, namun juga siap menghadapi tantangan global di masa depan.

Dalam proses penguasaan kecakapan hidup, anak membutuhkan bimbingan orang-orang dewasa yang berada disekitarnya, orangtua, guru, pengasuh, dan kerabat. Pelatihan kecakapan hidup sejak dini akan membuat anak terinspirasi untuk belajar dari berbagai sumber, menanamkan sikap antusias untuk belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan mampu untuk mengolah emosi agar dapat menghargai dirinya sendiri dan berinteraksi dengan baik dalam lingkungan sosialnya. Kecakapan hidup ini barus dilatih sepanjang waktu seiring proses perkembangan anak dan sama pentingnya dengan penguasaan kemampuan akademis dalam pengembangan kognisi anak. Peran orangtua sangat mempengaruhi pengembangan berbagai nilai kecakapan hidup dalam diri anak.

Beberapa diantaranya adalah:
  1. Rasa percaya diri, Anak membutuhkan dukungan dan kesempatan untuk memperlihatkan kemampuannya melakukan sesuatu. Hal ini akan menumbuhkan rasa percaya pada kemampuan dirinya sendiri sehingga ia mampu mengungkapkan pendapatnya pada orang lain.
  2. Berpikir Lateral. Anak perlu diarahkan agar mampu melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang. Tentu saja kemampuan ini sangat berkaitan dengan kematangan kognisinya. Namun, pembiasaan akan sangat membantu anak sehingga ia terampil dalam mempertimbangkan berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah.
  3. Pengaturan emosi. Suasana yang mendukung akan memudahkan anak untuk mengembangkan kemampuan pengaturan emosi dengan lebih baik. Anak perlu merasakan banyak emosi, misalnya sedih, marah, senang, bahagiah, kecewa, termasuk kegagalan. Dengan terbiasanya memahami emosi yang dirasakan, diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan untuk dapat mengatasi tekanan yang akan ia rasakan dalam perjalanan hidupnya. Penting pula dikembangkan kemampuan untuk melakukan evaluasi diri. Orangtua dapat menjadi contoh yang tepat dalam melatih kemampuan ini. MIsalnya dengan tidak mudah menyalahkan oranglain.
Tips modifikasi kegiatan anak sebagai bekal kecakapan hidup.
  • Tanamkan kebiasaan membaca pada anak. Tak hanya sebatas membaca buku, namun juga sumber informasi lainnya. Luangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak mengenai buku atau informasi yang didapatnya.
  • Kembangkan kemampuan anak untuk mengekspresikan pendapatnya. Misalnya dengan kegiatan menulis dan menggambar.
  • Kegiatan matematika. Terapkan konsep matematis dalam keseharian anak seperti bermain puzzle, atau belajar membuat klasifikasi benda, hewan dan sebagainya.
  • Kegiatan sains. Anak dapat belajar menerapkan ilmu pada kegiatan sehari-hari agar lebih memahami kaidah ilmiahnya. Manfaatkan kegiatan rekreasi sebagai sarana pratikum yang menyenangkan

Tuesday, August 14, 2012

Bentengi Anak Dari Pengaruh Buruk Televisi

Pengaruh TV Pada Karakter Anak
Pembentukan karakter atau mental berawal dari rumah. Hampir di setiap rumah ada televisi, sehingga mau tak mau tayangan televisi ikut menjadi salah satu kontributor pembentukan karakter atau mental anak. Meski demikian, seberapa besar persentase pengaruh tersebut di Indonesia, belum diketahui dengan pasti. Namun, jika melihat kasus-kasus yang muncul, dapat diasumsikan terjadi pengaruh yang signifikan antara tayangan televisi terhadap pembentukan karakter atau mental anak.

Sayangnya, ada orangtua - entah dengan alasan apa - memilih "menyerahkan pengasuhan" anaknya pada televisi. Sebagaimana dari mereka menempatkan televisi sebagai pengalih keonaran anak, keributan dengan anak-anak lain, agar orangtua bisa beristirahat. Mereka tidak sadar, bahwa menonton televisi sebenarnya dapat menghilangkan kesempatan anak untuk mengeksplorasi kegiatan motorik, kegiatan berpikir, dan sebagainya. padahal, pengaruh buruk televisi bisa menjadi sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan mental dan kecerdasan anak.

Maraknya tayangan sinetron di televisi tak bisa dilepaskan dari tuntutan dunia bisnis agar laku dan menghasilkan uang. Namun pada akhirnya dampak dari kondisi tersebut membuat orangtua menjadi serbah salah. Oleh karena itu tontonan yang tidak mendidik dan cenderung tidak masuk akal, harus bisa di cut oleh orangtuanya.

Sebaiknya orangtua mengubah kebiasaan anak yang sangat menyukai tontonan televisi, dan mengalihkannya pada kebiasaan membaca buku. Selain dampak negatifnya tidak besar, orangtua juga lebih mudah mengatur dan mengontrol buku bacaan bagi anak. Orangtua hendaknya memberi contoh dengan mengurangi waktu nonton televisi dan menjadi rajin membaca. Dengan begitu, diharapkan akan mempermudah upaya orangtua dalam mengubah kebiasaan anak, karena anak gemar meniru kebiasaan orangtuanya.

Meskipun begitu, sebaiknya anak tetap diizinkan nonton televisi. Namun dengan catatan, orangtua harus mengamati jenis tontonan apa saja yang mendidik. Orangtua juga harus pintar-pintar mensiasati  jam menonton anak. Misalnya ketika ada acara bagus, bisa saja mengatur jam belajar anak, sebelum atau sesudah acara tersebut. tetapi kalau acaranya kurang bagus, bisa memberi waktu belajar bertepatan dengan acara tersebut. Anak tidak akan menjadi kuper karena jam menontonnya dikurangi.

Ada cara lain yang bisa diterapkan agar si anak tidak terlalu suka menonton televisi, diantaranya dengan memberi kesibukan tambahan seperti les renang, les piano, les mengaji atau beladiri. Namun juga perlu diperhatikan bila anak terlalu capek dan nilai sekolahnya menurun maka waktu les bisa dikurangi.

Peran orangtua
Tayangan televisiagian dari  dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang dibangun oleh orangtua dirumah. Tetapi itu hanya terjadi bila ada peran aktif dari orangtua dalam mendampingi anak menonton televisi.orangtua merupakan guru yang terpenting bagi anak-anaknya, karena mereka belajar yang sesuatu yang penting setiap saat. Anak-anak belajar pada saat bermain, saat berjalan pulang dari sekolah bahkan saat mereka menonton televisi. peran orangtua sebagai guru tersebut waktunya sangat terbatas, karena pola-pola kepribadian dan sikap anak terhadap cara belajar sudah terbentuk, dan sulit diubah setelah anak berusia delapan tahun.

Artinya, tayangan televisi tidak perlu dihindari tapi perlu diwaspadai pengaruhnya. Televisi merupakan suatu medium, apapun isi siarannya, yang mempunyai pengaruh tersendiri pada anak. Yang juga tak kalah penting orangtua juga perlu mewaspadai pengaruh iklan terhadap anak-anak. Para pemasang iklan mengetahui benar peran televisi sebagai medium untuk menjual produk mereka. Mereka juga tahu betul bahwa anak-anak mempunyai pengaruh besar terhadap keuangan keluarga.

Oleh karena itu iklan mengenai mainan, permen, cokelat, makanan kecil, dan makanan siap saji sering menyela acara anak-anak dengan maksud yang jelas yaitu untuk menjual produk-produk mereka kepada anak-anak. Sebaiknya mengecilkan suara televisi ketika sedang iklan karena pengaruhnya iklan jauh berkurang apabila suaranya tidak terdengar. Cara lain adalah dengan mengajak anak untuk mengkritik iklan-iklan yang tidak masuk akal, atau bahkan dengan mengajarkan jurus-jurus periklanan sehingga anak-anak mengetahui dengan jelas tujuan dibuatnya iklan.

Agar tontonan TV memberikan efek pembelajaran yang optimal kepada anak, orangtua harus bisa membuat anak senang, nyaman, dan memahami apa yang ditonton. Bisa saja orangtua mengajak mereka menonton bersama dan memberikan penjelasan tentang apa saja yang mereka tonton. Mengapa boleh ditonton dan mengapa tidak. Apa akibatnya bila dilakukan terhadap orang lain, dan sebagainya.

Menonton bersama pada prinsipnya mesti fun serta ada nilai-nilai yang bisa bermanfaat. Tapi orangtua harus jeli memilih agar tontonan tidak hanya menghibur, namun juga memilih muatan edukatif. Termasuk saat menonton film kartun pun harus jeli memilih. Tak sedikit film kartun yang justru menimbulkan persepsi pada anak bahwa kekerasan adalah sesuatu yang menghibur.

kemudian tentang pemberian label BO, misalnya. Label BO itu hanya akal-akalan stasiun TV untuk tidak bertanggung jawab pada tayangan. Semua orang boleh menonton, seolah-olah tanggung jawab dilemparkan pada orangtua. Padahal muatannya belum tentu pantas ditonton oleh anak-anak. Orangtualah yang seharusnya menjadi filter dan menentukan apakah tayangan tersebut pantas atau tidak.

Monday, August 13, 2012

Jauhkan Anak Dari Penculik

Kasus penculikan anak, tak hanya menyergap keluarga yang berkecukupan, dengan tujuan mendapatkan uang tebusan. Dikalangan masyarakat bawah pun, kasus penculikan anak terjadi, untuk diperjualbelikan atau diperkerjakan. Apa pun motif tindakan tak beradap itu, menimbulkan luka yang dalam pada korban. Baik anak maupun keluarga. Selama dalam sekapan para penculik, seorang anak umumnya mengalami beberapa jenis kekerasan, baik secara fisik maupun mental.

Namun, diantara beberapa jenis kekerasan tersebut, yang paling menakutkan bagi anak adalah berpisah dengan orangtua atau orang-orang yang disayangi. Dia harus tinggal dengan orang yang umumnya sama sekali tidak dia kenal. Kalau penculik orang yang dikenal, anak tetap merasa tidak nyaman, bahkan tersiksa karena tidak tahu kapan bisa bertemu dengan orangtua dan keluarga.

Meningkatnya kasus penculikan merupakan sinyalemen bahwa kekerasan pada anak meningkat. Eskalasi kekerasan itu, memperkuat dugaan bahwa banyak orang yang menganggap anak hanyalah sebagai miniatur orang dewasa, tidak berdaya, rentan, dan peka. Ketidak berdayaan anak kemudian dimanfaatkan orang dewasa dan dianggap objek. Padahal anak merupakan aset bangsa yang perlu dirawat agar tumbuh optimal. Jadi anak perlu dijamin dan dilindungi hak-haknya.

Usia balita merupakan tahap egosentis dimana anak berpikir bahwa semua keinginannya harus dipenuhi. Namun, ketika diculik kondisi tersebut berubah 180 derajat, anak tidak lagi bisa berontak maupun mengontrol keadaan. Dalam pikiran anak akan muncul seperti, "mengapa saya tidak dijemput?" dan lain-lain.

Ketidaktahuan dan ketidak mengertian anak tentang kondisi yang sedang terjadi, akan menimbulkan dampak negatif pada pencintraan anak. Figur orangtua yang selama ini menjadi idola, perlahan akan luntur dan berkembang menjadi kemarahan. Pada anak yang lebih besar, biasanya akan muncul pikiran bahwa penculikan yang dia alami merupakan akibat dari kesalahan yang telah dia buat.

Lamanya masa penyekapan dan penculikan, akan mempengaruhi kestabilan emosi anak. Akibat yang muncul berbeda-beda tergantung dari motif penculikan, apakah menculik untuk dijadikan anak, meminta uang  tebusan, atau motif pengambilan organ tubuh.

Penculik yang motifnya ingin mnjadikan korban sebagai anaknya biasanya cenderung memanjakan. Pelaku juga akan melakukan cuci otak dengan mengatakan, bahwa meraka adalah papa dan mama si anak yang sebenarnya dan melakukan pembunuhan karakter orangtua. Figur orangtua yang selama ini dikenal, secara sistematis dihapus dari memori si anak, untuk selanjutnya berganti dengan figur si penculik.

Pemulihan
Beberapa korban penculikan yang selamat mengalami trauma yang tidak segera diatasi akan menetap hingga dewasa. Wujudnya biasanya berupa mimpi buruk, takut keluar rumah,curiga bila bertemu orang, dan tidak percaya diri dalam pergaulan. Atau mengalami ketakukan untuk berpisah dengan anggota keluarganya. Anak akan takut untuk pergi ke sekolah,atau menginap ditempat lain tanpa  orangtuanya. Bahkan ketakutan untuk berkenalan, atau bertemu orang lain. Ketakutan ini bisa memunculkan gejala seperti rasa pusing dan rasa sakit yang tidak bersumber penyakit fisik.

Untuk mengatasi kondisi tersebut orangtua harus membangun kembali pola asuh yang konsisten, artinya prinsip-prinsip utama dalam pengasuhan jangan pernah diterjang. Orangtua juga dituntut untuk memberi perhatian lebih pada anak pasca penculikan karena dalam keadaan ini kondisi kejiwaan anak belum stabil.

Selain memulihkan kondisi psikis dan fisik anak, juga penting diperhatikan upaya pemulihan terhadap orangtua pasca penculikan anak. Ternyata, orangtua juga tak kalah menderitanya dengan anak yang menjadi korban penculikan, bahkan bisa mengalami trauma yang lebih dalam. Peraan orangtua korban penculikan biasanya bercampur aduk, tak kalah menderitanya dengan anak.

Pada orangtua, muncul perasaan, sedih, marah yang bercampur menjadi satu. Dalam banyak kasus, orangtua akan berubah menjadi ekstrim. Misalnya menjadi memanjakan atau berupaya melindungi si anak secara berlebihan. pola-pola pendidikan untuk mendisiplinkan dan menanamkan kepercayaan diri pada anak, kerap diabaikan dengan alasan demi melindungi anak. Kondisi ini hanya akan merugikan keduanya.

Cara terbaik mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui konseling dengan ahli. Masa pemulihan pasca penculikan, diharapkan dapat lebih cepat dicapai orang tua dibanding anak. dengan asumsi, kepribadian orangtua jauh lebih matang dibanding anak, pemulihan trauma orang tua akan sangat membantu si anak.

Mencegah penculikan
bagaimanapun , mencegah selalu lebih baik. Para orangtua kini harus lebih waspada dan berhati. Orangtua harus menanamkan  pengertian kepada anak agar jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal. Perlu  juga diberitahukan kepada pihak sekolah atau tempat kursus siapa yang akan datang menjemput si anak, bagaimana mengawasi si anak bila sekolah telah usai, tetapi penjemput belum tiba. penjemput pun harus tahu betul jadwal pulang sekolah si anak.

Anak juga perlu dibekali sikap waspada. Ajari anak agar mau di ajak oleh orang-orang yang dikenalnya, bila telah mendapat izin langsung dari orangtua. Anak juga perlu diajari untuk berani menolak, dan berteriak sekencang-kencangnya bila ada orang yang membujuknya bahkan memaksa untuk ikut dengannya. Sebagaimana upaya kuratif, orangtua bisa segera melaporkan kepada polisi segera setelah menyadari adanya kemungkinan penculikan. Upaya lain yang bisa ditempuh adalah menyebarkan foto identitas si anak serta nomor kontak orangtua sebanyak mungkin tempat. Dalam hal ini, foto jauh lebih berarti daripada deskripsi dalam bentuk lain.

Penculikan, perdagangan, penganiayaan, eksploitasi, hingga aksi penjualan organ tubuh anak bukanlah tindak kriminal biasa. Pada kasus ini, mestinya diberlakukan pasal berlapis, sehingga pelaku pelanggaran hak anak yang dilakukan oleh pelaku dewasa mesti diberikan sanksi yang maksimal. Hukuman maksimal dan berlapis  bagi pelaku- yang ada dalam UU perlindungan anak- dapat memberikan perlindungan lebih bagi si anak.

Sesuai  UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, pelaku penculikan anak - apalagi yang kemudian diikuti dengan tindakan kekerasan, bahkan bila sampai memperdagangkan organ tubuh - harus diberlakukan hukuman maksimal, bahkan hukuman seumur hidup. Bagi anak yang selamat dan masih hidup saja, dampak kekerasan, penculikan, pemerkosaan atau penganiayaan lainnya. Menimbulkan penderitaan fisik dan psikis yang dapat berlangsung lama, bahkan seumur hidup.

Oleh karena itu perlu dipahami, bahwa memperhatikan keamanan dan keselamatan anak, adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya orangtua si anak. Semua orang dewasa berkewajiban menjaga tunas-tunas itu mampu tumbuh berkualitas.











Friday, August 10, 2012

11 Mitos Tentang Bayi

Jangan Mudah percaya mitos. Meskipun terkadang masuk akal, namun banyak mitos yang tidak benar agar tak terkecoh mitos, simak penjelasan berikut ini:

Bayi harus dibedong, agar kakinya tidak berbentuk huruf O

Membedong baik untuk bayi, tetapi bukan untuk mencegah kaki O. Membedong membantu bati menyesuaikan diri karena berbedaan dengan kondisi dalam rahim yang sempit dan tertekan. Tapi cukup sekitar satu bulan saja.

Rambut bayi yang dibawa sejak lahir kotor jadi harus digunduli.
Menggunduli kepala bayi, ada kemungkinan menimbulkan luka pada kulit kepala bayi dan berisiko infeksi. Rambut yang kotor cukup dicuci tidak perlu digunduli.

Bayi harus diberi sarung tangan, agar tidak mencakari wajahnya sendiri.
Kuku bayi sebenarnya lembek. Jadi tidak bisa mencakar,jika tangan bayi selalu tertutup sarung tangan,kesempatannya untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya menjadi terbatas

Pusar bayi harus ditutup koin agar tidak menonjol.
pusar menonjol, terjadi karena dinding perut di daerah pusar lemah. Tidak ada kaitannya dengan koin.

Bayi berusia dibawah 7 bulan, tidak boleh digendong dengan posisi kaki terbuka, karena akan membuat kakinya menjadi huruf O
Tidak ada hubungan menggendong bayi di punggung dengan posisi kaki terbuka, dengan kaki O. Yang perlu dipertimbangkan adalah faktor kekuatan bayi. Jika leher dan punggung sudah kuat dan bayinya besar, boleh saja. Tetapi kalau bayi masih lemah dan kecil, sebaiknya jangan.

Ubun bayi yang masih lembek perlu dilindungi popolan atau topi agar tidak masuk angin.
Ubun-ubun bayi merupakan bagian yang lemah, maka perlu dijaga, agar tidak terbentur benda keras atau tajam, popolan sangat mungkin mengandung bakteri yang dapat menimbulkan infeksi karena kulit bayi masih peka. pemakaian topi, sebaiknya memperhatikan kenyamanan bayi. Bila kepalanya berkeringat, artinya kepanasan.

Bantal beras atau kacang hijau dapat mencegah bentuk kepala bayi menjadi peyang
ketika berbaring, bayi cenderung ingin menoleh ke arah cahaya. Misalnya ke jendela. Agar bentuk kepalanya simetris, usahakan agar letak sumber cahaya berubah-ubah. bila bayi cenderung untuk menoleh ke suatu sisi saja, boleh dibantu agar kepalnya menghadap ke tengah, dengan bantal kecil yang di isi beras atau kacang hijau. Bantal ini bukan untuk mencegah agar kepala bayi tidak peyang.

Kebiasaan mengempeng dan menghisap jari dan dapat membuat giginya maju.
Bayi yang menghisap empeng sebenarnya sedang berupaya menenangkan diri. Hal ini perlu difasilitasi dengan selalu membersihkan tangan bayi atau empengnya.

Kulit bayi yang kemerahan dapat diatasi dengan ludah ibu.
Mungkin saja. Kulit kemerahan merupakan awal infeksi kulit. Pada ludah, terdapat enzim yang bisa membunuh bebrapa bakteri. ASI juga bisa digunakan karena mengandung antibodi yang dapat membunuh beberapa jenis kuman.

Bayi yang lebih dulu tambah gigi, akan lama berjalan atau sebaliknya.
Pertumbuhan gigi ditentukan oleh pematangan bakal gigi. Kemampuan berjalan berkaitan masalah perkembangan otak, pematangan saraf serta otot dan tulang. Jadi keduanya berbeda dan tidak berkaitan.


Wednesday, August 8, 2012

Bila Buah Hati Tak Kunjung Hadir

Anak Merupakan pelengkap kebahagian pasangan menikah. Saat berkumpul dalam acara keluarga, sering muncul pertanyaan seperti, "isi" belum? dan sebagainya. Mungkin pertanyaan itu tidak menjadi persoalan bagi pasangan  yang baru saja menikah, namun bisa menjadi tofik sensitif bagi pasangan yang telah bertahun-tahun merindukan momongan.

Pernikahan adalah pengukuhan hubungan dua individu laki-laki dan perempuan dalam sebuah lembaga perkawinan yang sah. Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan sebagai penerus generasi . Buah hati bukan saja penerus generasi dan perekat perkawinan, tetapi juga awal dari langkah selanjutnya bagi pria dan wanita dalam mengisi tugas sebagai ayah dan ibu. Dengan berubahnya peran, individu akan mulai belajar bagaimana harus berperilaku.

Meski banyak pasangan yang ingin segera memiliki momongan setelah menikah, namun tidak sedikit pasangan yang sengaja menunda. Ada bererapa alasan mengapa pasangan menikah menunda untuk memiliki anak. Pertama, ketidakpastian secara materi. Dalam hal ini, pasangan memiliki ketakutan bahwa pendapatan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan si buah hati. Kedua, ketidak siapan secara psikologis. Alasan ini muncul karena adanya ketakutan tidak bisa menjadi ayah atau ibu yang baik. Ketiga, pasangan mendahulukan kepentingan lain. Misalnya, melanjutkan studi. dan lain sebagainya.

Alasan sebuah pasangan mengharapkan kehadiran buah hati seringkali didasarkan pada motivasi  saat awal pernikahan. Misalnya, pasangan yang menikah karena ingin mempunyai keturunan, cenderung ada menuntut agar sang istri harus dapat melahirkan anak. Namun ada juga pasangan yang menikah, lebih karena ingin mempunyai teman.

Penantian akan lahirnya buah hati bisa menjadi masalah dalam rumah tangga, bila keduanya tidak bisa menerima keadaan. Apalagi bila salah satu pihak menimpakan kesalahan pada pasangan, biasanya dalam hal ini istri sebagai korban. Padahal suatu pasangan tidak dikarunia anak bukan melulu karena masalah intertilitas tetapi juga masalah psikologis.

Lantaran tak kunjung dikaruniai anak, ada pasangan yang depresi. Namun banyak pasangan tanpa anak yang menerimanya dengan pasrah, dan berpikir positif. Namun hal ini kembali lagi pada konsep pernikahan mereka, apakah ingin cepat dapat momongan atau memang ingin menunda dengan berbagai alasan.

Timbul Masalah.
Permasalahan pada pasangan menikah tanpa anak, bisa jadi justru disebabkan oleh sikap masyarakat atau lingkungan sekitar yang menuntut adanya anak. Baik tuntutan secara langsung, misalnya ayah atau ibu mertua yang terus menerus meminta cucu, maupun tidak langsung, mulai dari sekedar gunjingan ringan, hingga gossip menjengkelkan.

Dalam banyak kasus, istri merasa lebih tertekan jika setelah beberapa tahun belum juga mendapatkan keturunan. Apalagi bila diketahui bahwa sang istri mempunyai masalah keturunan. Apalagi bila diketahui bahwa sang istri mempunyai masalah fertilitas, sehingga tekanan pun akan semakin besar. Tak jarang muncul tekanan lingkungan, bahwa dari suami agar mengijinkan poligami. Sebagai istri akhirnya menyerah dan mengijinkan suaminya berpoligami. Tetapi pada dasarnya tidak ada seorang istri pun rela suaminya menikah lagi atau  pun diduakan.

Ketidak hadiran buah hati ini bisa menimbulkan masalah ketika masing-masing pasangan tidak membuka pikiran atau menerima keadaan  dan mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Ada yang tidak peduli namun ada juga sebagian pasangan yang terganggu dengan ketiadaan anak ini. Biasanya hal tersebut karena tidak ada komunikasi dua arah antara mereka.

Butuh Kedewasaan
Memang tidak semua pasangan mempermasalahkan  ketidak hadiran si buah hati di tengah-tengah mereka. Namun tetap dibutuhkan kedewasaan sikap dan toleransi yang sangat besar pada masing-masing pihak. Setidaknya mereka perlu memahami bahwa ketidakmampuan memiliki keturunan bukan semata-mata kesalahan pasangan (istri atau Suami). Apa pun kondisinya,masing-masing pihak harus saling mendukung dan mengupayakan solusinya. Duduk bersama dan mendiskusikan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kenyataan tersebut tanpa ada campur tangan orang ketiga.

Oleh karena itu sebelum menikah setiap pasangan harus benar-benar mengenal pasangan, mulai dari sifat baik dan jeleknya, kebiasaan-kebiasaan positif dan buruknya, cara dia mengambil keputusan, sampai pola keluarga dari masing-masing pasangan. Hal tersebut perlu diketahui agar tidak ada penyesalan dan kekecewaan yang tak perlu, yang baru muncul setelah pernikahan.

Pada saat timbul masalah itulah hal-hal positif dari seseorang akan terlihat. Setiap pasangan menikah seharusnya berpikir untuk saling melengkapi bukan hanya memikirkan masalah anak yang tidak kunjung hadir. Mereka yang mempunyai kedewasaan berpikir akan melihat bahwa anak hanyalah titipan tuhan dan bukan milik kita sepenuhnya.

Mencari Solusi
Mereka yang mengharapkan buah hati ditengah-tengah keluarga sebaiknya tidak saling menyalahkan dan menuduh siapa penyebabnya. karena yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah bersama-sama mengupayakan solusi.  Apakah  sependapat untuk mengadopsi anak, bayi tabung, atau justru sepakat untuk tidak melakukan keduanya. Ada pasangan yang berpikir bahwa untuk membagikan kasih sayang tidak perlu kepada anak kandung saja, tetapi juga kepada keponakan atau anak-anak dilingkungan sekitarnya.

Namun sebelum mereka mengambil keputusan maka hal utama yang harus dilakukan adalah berpikir secara matang, jangan terburu-buru, sehingga salah satu dari mereka tidak sreg. Umpamanya, diputuskan untuk mengadopsi anak. Jangan sampai keputusan tersebut diambil karena desakan dari salah satu pihak. Karena bila terjadi hal seperti itu, maka yang kasihan adalah si anak adopsi itu. Anak itu tidak akan mendapat limpahan kasih sayang, dan perawatan secara optimal.
Tidak jarang pasangan tanpa anak yang mengadopsi anak bisa membuat hubungan mereka menjadi lebih relaks. Kondisi yang lebih santai dan ceria karena adanya anggota baru dalam keluarga biasanya akan menimbulkan kondisi psikologis yang lebih sehat. Namun mengadopsi anak bukanlah satu-satunya pilihan bagi pasangan yang tak kunjung mendapat keturunan.

Jika ketidak hadiran anak disebabkan oleh gangguan medis maka masalah itu bisa diatasi dengan bantuan dan terapi medis pula. Namun jangan mengadopsi  anak hanya sebagai upaya untuk memancing agar punya anak. Sebagian masyarakat percaya, bahwa mengadopsi anak dapat memicu hadirnya anak kandung. Cara seperti itu bisa jadi hanya akan membuat si anak jadi terlantar, Sebaiknya sebelum pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak, tanyakan kembali pada diri masing-masing apakah betul membutuhkan seorang untuk hadir ditengah-tengah mereka. 

Ekspresi kesedihan karena lama tidak mendapatkan anak, biasanya lebih terlihat pada istri. oleh karena itu suami sebaiknya bisa memahami kondisi tersebut. dengarkanlah setiap keluhan sang istri. Hibur sang istri dalam mengisi hari-harinya agar tetap menyenangkan  Jangan menjadikan kehadiran anak sebagai masalah besar dalam keluarga. 

Dan yang lebih penting adalah, belum hadirnya buah hati, jangan sampai mengurangi kadar kemesraan suami istri. mereka bisa menjalankan aktivitas sehari-hari seperti bias  dengan saling memberi motivasi. Bagaimana agar pasangan menjadikan kehidupannya ini tetap bermakna, tanpa mengurangi kadar kasih sayang diantara mereka, maupun pada anak-anak.




Terlalu Banyak Seberapa Banyak

Rasa sayang kepada anak, memang kerap melatarbelakangi orangtua untuk memberi anak materi dan fasilitas secara berlebihan, atas nama cinta, terkadang orangtua dengan mudahnya meluluskan berbagai permintaan anaknya. Mengasihi itu tidak cukup dengan cinta, tetapi harus dengan logika karena kalau tidak pakai logika, capek benar orangtua itu. Jungkir balik dia bekerja, memenuhi semua keinginan anak.

Selain cinta, rasa bersalah orangtua terhadap anak juga kerap mendasari sikap orangtua yang gemar membanjiri materi dan fasilitas kepada anaknya. Karena sekarang banyak orangtua bekerja, waktu yang hanya sedikit untuk anak-anak, seringkali ditebus dengan memberi materi secara berlebihan pada anak. Seolah-olah materi-materi tersebut bisa menutupi rasa bersalahnya.

Faktor lain bisa disebabkan oleh latar belakang orangtua yang masa kecilnya, jarang atau tidak pernah dipenuhi keinginan-keinginannya. Bisa karena keadaan yang tidak memungkinkan atau pola pengasuhan yang keras. Karena itu, ketika orangtua ini mempunyai anak, mereka ingin memperlakukan anak mereka dengan cara berbeda.

Tetapi bisa juga, perilaku orangtua dalam memberi materi dan fasilitas kepada anak dilandasi oleh rasa persaingan . Orangtua melihat, anak orang lain dibelikan, berarti anak saya juga harus dibelikan. Orangtua ini, tidak mau kalah dengan orangtua lain.

Tugas utama orangtua adalah mengasuh anak. Dalam proses pengasuhan itu ada banyak faktor yang harus dipenuhi. Mulai dari pemberian materi, kasih sayang, perhatian, waktu dan sebagainya. Itu harus dikasih semua tidak boleh hanya satu hal, pasti akan ada yang timpang. Misalnya, kalau cuma dikasih baju aja, tentu anak akan kurus kering karena tidak diberi makan. Jadi, pengasuhan harus seimbang pemberiannya.

Pemberian materi bagi anak itu harus sebatas yang dibutuhkan anak. Kalau memang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, baru kemudian menambahkan sedikit kebutuhan diluar itu, misalnya permainan, dan kebutuhan untuk mengembangkan diri seperti sekolah.

Orangtua bisa tahu bahwa apa yang dilakukan berlebihan, ketika materi yang diberikan, sudah bukan lagi kebutuhan anak, tetapi malah mengarah menjadi hal yang negatif. Misalnya, materi yang diberikan orangtua, menjadi senjata untuk menyogok anak atau materi yang diberikan itu, membuat anak "mengerjai" orangtua.

Apa yang too much adalah jika anak menginginkan sesuatu yang tidak ada dasarnya, dan diberikan. Misalnya, anak bisa mengendarai motor-motoran yang di charge, karena orangtuanya mampu, anak dibelikan saja. Meskipun, motor-motoran itu tidak dipakai dan anak belum bisa me-maintain mainan itu, bahkan memahami mainan itu.

Selain itu, sesuatu dapat dikatakan berlebihan atau tidak bisa dengan melihat dari sisi orangtua. Kalau orangtua sedang kelebihan rejeki atau harta, boleh-boleh saja memberikan pada anak. Tetapi jangan biarkan anak, kapan pun dia ingin, dimana pun dia minta, harus dikabulkan permintaanya.

Ada dua hal penting yang perlu dipahami dalam memberi pada anak, yaitu: need and wants. Need harus dipenuhi, tidak bisa ditawar-tawar. Sementara  wants, harus dilihat situasinya.

Wants berubah terus, karena agen periklanan terus berusaha untuk mempengaruhi buying motive, dikepala dan di bawah kesadaran konsumen. Mereka mempelajari anak-anak, apa yang diinginkan, apa kebiasaan-kebiasaan, dan sikapnya seperti apa. Mereka meneliti untuk  kemudian merumuskannya bagaimana menarget anak-anak. Jadi anak-anak akan berusaha membeli untuk dirinya, dan mendorong keluarga untuk membeli. Ini yang tidak diketahui oleh orangtua.

Jika orangtua begitu saja memenuhi permintaan anak, satu hal yang hilang, perspektif logika, kemampuan untuk berpikir, kemampuan memilih dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Padahal untuk memutuskan apakah perlu membeli atau tidak. anak harus dibekali pengetahuan dan logika yang memadai. Apakah saya memang membutuhkan barang itu? apakah saya harus membelinya? dan, berapa uang yang harus saya keluarkan untuk membeli barang ini? Dan sebagainya. Proses tidak sederhana, untuk membeli atau tidak membeli suatu barang. Berpikir, memilih, dan memutuskan harus dilakukan oleh anak dan atas nama dirinya.

Dengan membiasakan anak seperti itu, anak memiliki kemampuan untuk mengontrol  uang yang dimilikinya. Jadi, walaupun dia punya uang, dia tidak akan beli  jika tidak memerlukan. Dia akan berpikir ah lain kali saja. kemampuan itulah yang diperlukan. kalau tidak begitu, dia akan korupsi karena dia tidak bisa mengendalikan uang, dan tidak bisa mengendalikan hasratnya untuk memiliki sesuatu.

Hal lain yang juga penting dalam memenuhi keinginan anak adalah, penekanan bahwa sesuatu dapat diberikan asalkan anak mau berusaha. apa yang diinginkan, they have to earn, mereka harus usaha. Misalnya, untuk membeli mainan yang mahal anak diajarkan untuk mengumpulkan uang, dari uang sakunya, dari tabungannya, dan lain sebagainya

selain dari anak, pada kenyataannya, keinginan dan kebutuhan untuk melimpahi anak secara materi kadang-kadang justru datang dari orangtuanya. Misalnya , karena ingin terlihat cantik dimatanya, tak jarang orangtua membelikan anak banyak sekali pakaian dan asesories yang berlebihan. Sudah punya 4 sepatu warna putih, hitam, pink, dan coklat, masih saja dia membelikan sepatu-sepatu lain berwarna kuning, merah, hijau, biru, dan entah warna apa lagi. Alasannya biar serasi dengan baju-bajunya.

Banyak orangtua yang bangga justru kalau anaknya punya barang-barang bermerk, jadi kelihatan kalau orangtuanya makmur. Oleh karena itu, tak hanya anak yang seharusnya dituntut untuk berpikir dan menimbang-nimbang dalam urusan beli-membeli sesuatu. Meskipun pembelian itu untuk anaknya. orangtua juga perlu menimbang-nimbang. Kembalikan dulu ke diri sendiri, sebenarnya ini buat anak, atau buat dia? jika untuk anak, kembalikan lagi, anak butuh atau tidak?

 Orangtua yang membeli tanpa peduli kebutuhan anak, berarti tidak mengajarkan kepada anaknya mengenai kebutuhan-kebutuhannya, dan bagaimana memenuhinya. Salah-salah, tak hanya sekolah dan kursusnya saja yang ditentukan orangtua, juga jodoh dan profesinya. Jadi, kapan anak memiliki dirinya dan menyatakan seleranya.

Sejauh tujuannya jelas dan orangtuanya mampu, sekali-kali boleh juga memenuhi keinginan anaknya, Uang jajan anak misalnya. Kalau orangtua punya uang lebih, boleh ditambahi. Jangan lupa katakan, tetapi hari ini saja ya..

Anak yang terbiasa dipenuhi kebutuhannya secara berlebihan, akan memiliki konsep diri yang negatif, bahkan hancur ketika kemampuan orangtuanya secara materi menurun. "patokannya materi. Kalau dia tidak ada materi, dia merasa bukan apa-apa. Untuk Menghindari hal-hal tersebut, agar setiap kali orangtua ingin memberikan sesuatu pada anak, sebaiknya menanyakan pada dirinya sendiri. "Apa arti pemberian ini  untuk anakku"

"Saya bisa bungkus engkau, Nak, dengan emas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu aku tabur-taburkan permata. Tetapi kamu jadi rusak, tak punya masa depan. Karena emas dan permata ini milikku, milik engkau ada dalam dirimu,Nak. Kemampuan berpikir,kemampuan memiliki, kemampuan mengambil keputusan. Karena aku tidak selamanya bersama engkau." (Muhammad Din Ilyas kepada putrinya Elly Risman Musa)

Tuesday, August 7, 2012

Anak Tunggal Harus Diperlakukan Secara Normal Agar tidak menjadi Jago Kandang

Dalam permasalahan kepribadian, fenomena keberadaan anak tunggal memang terbilang cukup unik. Di satu sisi, keberadaan sebagai anak tunggal dapat menimbulkan sifat dan kepribadian yang mandiri dan juga independen, karena memang sejak kecil dalam kesehariannya seorang anak tunggal terbiasa sendiri dirumah, tanpa teman atau saudara.

Namun di sisi lain, anak tunggal tidak memiliki kakak atau adik yang dijadikan role model serta tidak mengalami persaingan dan kompetisi dalam keluarga. Kondisi tersebut dapat memunculkan sifat manja, agak egois, dan kurang suka berkompetisi karena si anak cenderung selalu dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan hampir selalu menjadi "raja" di rumah, karena dialah satu-satunya pusat perhatian orangtua, dan anggota keluarga lainnya.

Social skill yang dimiliki anak tunggal cenderung lebih rendah dibanding dengan bukan anak tunggal.Sehingga bila si orangtua tidak mampu memberikan pendidikan dan pengarahan yang tepat maka anak itu akan menjadi egois. Anak tunggal memang perlu diberi pendidikan dan pengarahan untuk menumbuhkan empatinya, selain pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan lainnya. peran orangtua dalam pembentukan keperibadian si anak tunggal menjadi sangat besar.

Kekurangan besar yang dimiliki seorang anak tunggal adalah kekurangan kesempatan bermain dan kurang kebebasan, karena bisanya orangtua sangat berhati-hati bahkan cenderung over protective, anak tunggal juga tidak memiliki kesempatan untuk berebut, berbagi, memenangkan hati orangtua, mengalami perasaan dikalahkan, merasa kurang penting atau lebih berharga dari orang lain, dan lain-lain.

Ada beberapa cara bagi anak tunggal agar dapat memenuhi kebutuhan bersosialisasi. Di antaranya dengan membantu anak berada dalam suatu kelompok kegiatan seperti tari, drama, olahraga, atau les mata pelajaran. Bisa juga secara berkala mengadakan pertemuan dengan sepupu, atau anak teman ayah dan ibunya. Dengan begitu, si anak memperoleh pelatihan berharga bagi dirinya. Sesekali orangtua juga bisa mengajak si anak menginap dirumah teman, nenek, dan anggota keluarga lainnya yang sudah dikenal dengan baik.

Anak tunggal juga perlu bermain dilingkungan tempat tinggal, meski tetap saja diperlukan peran orangtua dalam mengontrol kegiatan mereka. Anak tunggal harus dibesarkan secara wajar, harus diajarkan kemampuan untuk berpikir, untuk memilih serta kemampuan mengambil keputusan. Jangan hanya karena anak tunggal, kemudian semua keperluannya disediakan dan di atur.

Tang perlu diingat orangtua adalah anak harus mekar menjadi dirinya sendiri, dan bukan miniatur orangtua. Anak tunggal harus mengalami hal-hal seperti dialami anak pada umumnya. Mulai dari pernah jatuh dan terluka, tahu rasanya sakit, pernah nyasar untuk tahu bagaimana mencari jalan pulang, pernah mengalami gagal agar tahu apa itu arti sebuah keberhasilan, mengalami kecewa agar tahu rasanya menikmati bahagia, merasakan sakit agar bisa menghargai arti  sehat dan berbagai perasaan negatif dan positif lainnya. Pada perinsipnya  masyarakat akan memberi penghargaan kepada anak-nak harus berprestasi atas kemampuan diri sendiri, baik hati yang tidak dibuat-buat serta sifat suka menolong tanpa harus di minta.

Orangtua  harus bisa melatih anak tunggal agar bertangung jawab terhadap pilihannya, harus berpikir dan menimbang dahulu sebelum melakukan sesuatu hal, dan pandai mengambil keputusan yang tepat. Perlu ditanamkan juga kepada anak, bahwa belajar bukanlah untuk mengejar ranking tetapi untuk mengerti sesuatu hal. Unsur emosi anak harus dikelola sejak dini. orangtua harus menyeimbangkan emosi anak, perlakuan normal terhadap anak tunggal sebagaimana halnya anak tunggal diperlakukan agar tidak menjadi jago kandang.

berkaitan dengan posisinya sebagai anak tunggal, yang tidak memiliki kakak atau adik sebagai sparing parner, orangtua harus dapat berperan ganda.  Selain sebagai ayah dan ibu, juga mesti bisa menjadi kakak atau adik si anak tunggal. Selain sebagai pendidik dan pengarah, orangtua juga harus mampu menciptakan suasana berbagi dengan si anak tunggal.

misalnya saja dalam hal makanan, orangtua  mesti berbagi dengan sang anak. Dengan kata lain dalam mengisi kejiwaan si anak, peran orangtua memang dituntut ekstra. Karena anak tunggal tidak memiliki saudara dekat, maka peer group atau kelompok bermainnya memiliki peran cukup besar dalam proses pembentukan kepribadian si anak. Oleh Karena itu, orangtua juga mesti mengetahui dengan cukup baik siapa saja kelompok atau teman bermain si anak.

Namun peran ekstra orangua bukan dalam arti  terus menerus mengawal semua kegiatan anak tunggal. Perhatian dapat diberikan tanpa harus terlibat langsung dalam semua aktifitas anak tunggal. Cara untuk mengetahui siapa saja teman bermain serta bagaimana sifat teman-teman si anak dalam kelompok bermainnya, bisa dengan mengundang dan mengajak teman kelompoknya si anak datang berkunjung kerumah. Atau sesekali mengajak si anak dan teman dalam kelompoknya berjalan-jalan ketempat-tempat yang mereka sukai, seperti arena bermain, kebun binatang, atau tempat menarik lainnya.

Namun pengawasan orangtua kepada anak-anak tidak harus dilaksanakan selama non stop 24 jam. Yang lebih penting, orangtua harus memberikan pendidikan dan perhatian atau awareness pada anaknya, mana pergaulan yang baik, serta memberi pengaruh positif bagi kehidupannya serta pergaulan yang mesti dihindari.

Mengangkat Anak?

Tak jarang, karena alasan untuk memberi teman bermain pada anak tunggal, orangtua berkeinginan untuk mengangkat anak. Ketika orangtua memutuskan perlu mengangkat anak atau mengajak saudara tinggal di rumah untuk menemani si anak, maka hal tersebut sangat tergantung dari kesepakatan orangtua. Perlu dipertimbangkan juga konsekuensi mengangkat anak, seperti keadilan dalam pengasuhan anak, sampai dengan pembagian harta warisan kelak.

Harus dipertimbangkan juga pada usia berapa anak akan dicarikan saudara angkat. Semakin besar usia anak maka ia harus dilibatkan dalam proses memilih untuk mengangkat atau tidak mengangkat anak tersebut.  Orangtua merupakan kunci utama, karena harus bijak dan jelas dalam menempatkan status anak yang diangkat tersebut. Jelas dalam arti bagi mereka sendiri, bagi anak, bagi orangtua dari anak angkat, serta jelas bagi nenek dan kakek dari kedua belah pihak.

Berdasarkan sebuah riset dan penelitian yang dimuat website Alfred Adler, ada kecenderungan anak tunggal memiliki tingkat kecerdasan yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan bukan anak tunggal. Namun, ia buru-buru menambahkan bahwa kesimpulan tersebut harus diteliti lebih lanjut. penilaian mungkin saja hal itu dapat terjadi karena anak tunggal memang tidak memiliki kompetitor dalam mendapatkan nilai prestasi belajar dengan saudaranya, pada anak tunggal, ketika kakak atau adik memperoleh nilai bagus, pasti ada rasa malu dan semangat tak mau ketinggalan, bahkan bisa saja berniat melampaui nilai yang diraih saudara-saudaranya.

Secara umum, pada anak tunggal pada suatu titik ekstrim. Ada anak tunggal yang bersifat sangat independen, dan sebaliknya ada pula anak tunggal yang bersifat sangat manja. bila dikaitkan dengan kecenderungan berbuat nakal yang dilakukan oleh seorang nak, tidak ada perbedaan antara anak tunggal atau bukan. Kecenderungan untuk melakukan penyimpangan baik pada anak tunggal maupun bukan, sama-sama ada.

Anak tunggal atau bukan, perlakuan yang berlebihan dari orangtua maupun lingkungan bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Tugas orangtua adalah menciptakan keseimbangan agar anak tunggal bisa tumbuh dan berkembang secara optimal



Monday, August 6, 2012

Anakku Mencuri ...Bagaimana ini?

Ilustrasi: Anak mencuri Uang Dalam Tas Ibunya
Anak-anak yang suka mencuri umumnya sejak kecil kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Anak-anak yang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya memiliki ketangguhan mental yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang tidak memperoleh perhatian.

Ungkapan kasih sayang dan perhatian tidak bisa diberikan dalam waktu yang terbatas dan tergesa-gesa. Ungkapan tersebut tidak akan optimal saat jiwa dan pikiran terasa padat dan sibuk oleh hal lain, serta skala proritas tentang pentingnya pengasuhan anak yang berada pada urutan terendah.

Memberikan perhatian dan kasih sayang yang optimal kepada anak-anak, memang bukan hal mudah. Membutuhkan waktu, kesungguhan, kesabaran dan ketangguhan  untuk memenuhi gizi yang dibutuhkan anak, bukan hanya sekedar gizi fisik tetapi juga gizi jiwa dan gizi spiritual. Selama ini sebagian besar orang tua cenderung hanya memenuhi gizi fisik saja dan menekankan semata pada keberhasilan otak dan akademis.

Karena anak didera tuntutan agar berhasil dalam persaingan akademis, hal-hal yang menyangkut keimanan, tata cara pergaulan, etika, batasan yang benar dan salah, baik dan buruk tidak sempat tersosialisasi dengan baik.Yang paling parah mayoritas anak-anak tak terpenuhi haknya untuk didengarkan perasaannya. Meskipun demikian ketika seorang anak ketahuan mencuri, hal tersebut harus dilihat kasus per kasus, karena sifatnya sangat individual. Apakah sekedar meniru atau memiliki motif tersendiri.

Secara psikologis ada beberapa hal yang mendorong seorang anak mencuri. Anak-anak yang tergolong implusive (secara spontan bertindak sesuai dengan dorongan yang dirasakan tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu akibat dari tindakan tersebut) akan lebih mudah untuk mencuri. Anak-anak yang kurang percaya diri juga lebih mudah terdorong untuk mencuri,karena ia ingin terlihat sama dengan peer group-nya, sehingga dia akan mencuri benda-benda yang sedang in dilingkungan teman-temannya.

penyebab lain adalah karena anak tergiur dengan iklan-iklan yang dilihatnya sehari-hari, dan ia sangat ingin mencobanya. Anak-anak usia sekolah memiliki kemungkinan untuk mencuri yang lebih besar dibandingkan anak-anak yang lebih muda. Ada kaitan yang cukup erat antara kondisi lingkungan pergaulan si anak, baik dilingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal maupun di dalam lingkungan keluarga, yang membuat seorang anak mencuri.

Faktor lingkungan mempunyai kontribusi dalam terbentuknya tingkah laku mencuri tersebut. Misalnya, bila kebetulan anak bergaul dengan teman-teman yang suka mencuri, lama kelamaan ia juga ingin mencoba melakukannya  atau dia tidak mau dianggap berbeda dari teman-temannya.

Pengaruh teman sangat besar bagi anak, karena teman merupakan orang terdekat dengan siapa anak "fell belong". Ditolak oleh teman-teman terasa lebih menyakitkan dari pada ditolak oleh orang tua. Sebagian anak-anak tak  perlu merasa khawatir ditolak orang tua, karena mereka yakin orang tua pasti akan memaafkan dan menerima lagi. Tetapi bila ditolak teman bisa berakibat ditinggalkan oleh teman yang lain. Hal ini sering tidak tertahankan oleh anak, sehingga dia berusaha memenangkan pergaulan atau temannya.

Norma kelompok akan besar pengaruhnya, sehingga anak yang sebelumnya tak mencuri, berani mencuri. Dengan alasan demi pertemanan, anak yang semula tergolong baik pun pada akhirnya bisa melakukannya. Apalagi bila kurang memperoleh perhatian, kasih sayang, serta bimbingan dari orang tua. pengaruh lain yang tak kalah besarnya terhadap kepribadian dan kebiasaan anak adalah peran media khususnya televisi. Penjualan produk dengan cara super modern, menggunakan marketing research dan program marketing terpadu termasuk promosi yang canggih bisa sangat mempengaruhi jiwa anak.

Banyak perusahaan marketing research yang melihat anak sebagai pangsa pasar yang sangat empuk. Anak bukan saja faktor pendorong pembelian untuk dirinya tetapi juga untuk keluarga. Anak dan remaja kerap pula dilihat sebagai pangsa pasar masa depan atau apa yang mereka sebut The Future Market.

Atas dasar itulah kebiasaan dan harapan anak dipelajari sedemikian rupa, sehingga produk yang akan dijual dibuat pada akhirnya menjadi sangat dekat dengan mereka. Anak dan remaja akan merasa produk itu "Gue Banget gitu Loh". Proses pemasaran suatu produk yang sangat njelimet ini sering dipahami oleh orang tua.

Akibat mereka tak mampu membekali anak mereka dengan kemampuan berpikir kritis untuk memilih dan mengambil keputusan mengapa harus membeli atau memiliki suatu produk atau mengikuti gaya hidup  tertentu. Dan ketika anak mempunyai keinginan menggebu yang tak terpenuhi, mereka pun mengupayakan berbagai kemungkinan untuk mendapatkannya, termasuk dengan mencuri.

Apabila orangtua mengetahui sang anak mencuri, tak perlu senewen. Tidak bisa diatasi dengan marah, karena apapun kelakuan anak, negatif maupun positif, orang tua pasti memiliki peran. Jadi lebih baik cari tahu dengan pelan dan seksama apa penyebabnya. Kemudian berusaha memperbaiki kelakuan sang anak. Hal ini membutuhkan kesabaran dan ketelatenan karena biasanya tidak bisa diatasi dalam waktu singkat. Yang terpenting adalah mencari jalan keluar bersama, sepakati dengan pasangan, mencoba menerapkannya, serta memantau sang anak.

Terapai yang harus dilakukan oleh orang tua saat anak ketahuan mencuri, sangat tergantung pada kedalaman permasalahan serta sudah berapa lama hal itu berlangsung. orangtua sangat perlu mengecek dan mengetahui dengan siapa saja si anak bermain.

Apabila orangtua mendapati anaknya mencuri, tetapkanlah bersikap tenang. Terlebih dahulu tanyakan kepada si anak, mengapa dia mencuri. Jangan langsung memarahi, tetapi galilah informasi, dengarkan dan lihatlah terlebih dahulu dari sisi pandang anak. Baru kemudian kita mengatakan bahwa  dia tidak perlu mencuri.

Orangtua perlu mendorong anak agar mencoba meminta kepada orangtua. Katakan, bahwa anak tak perlu takut meminta. bila barang tersebut memang memiliki manfaat maka orangtua akan membantu mewujudkan keinginan tersebut. Namun, apabila anak kedapatan kembali mencuri, maka orangtua perlu introfiksi. Mungkin saja tindakan mencuri itu bukan karena ia menginginkan benda yang dicurinya, tetapi sebagai bentuk mencari perhatian dari orangtua yang sangat sibuk. 

Biasanya, orangtua yang sibuk tidak pernah memperhatikan bila anak melakukan hal positif sebaliknya, mereka secara spontan bereaksi ketika sang anak berbuat negatif. Hal ini yang juga perlu diperhatikan adalah adanya kemungkinan orangtua menerapkan pola asuh otoriter sehingga anak selalu merasa takut untuk mengemukakan  keinginannya. Akibatnya ia terdorong untuk mencuri bila ia benar-benar menginginkan sesuatu. Apa lagi  jika si anak tidak pernah memperoleh pendidikan mengenai nilai-nilai atau norma sosial dari orangtua.

Tetapi , bila hal-hal diatas bukan merupakan penyebabnya, maka orangtua harus konsisten mengajari anak bahwa mencuri adalah tindakan tidak terpuji. Anak bisa diberi hukuman, misalnya tidak boleh bermain dengan  mainan kesayangannya, atau tidak boleh bermain dalam waktu tertentu.

Yang sering dilupakan orangtua adalah ketika anak tidak melakukan hal yang negatif maka dia perlu juga diberikan reward. Ketika orangtua merasa kewalahan dalam menghadapi tingkah anak, maka dapat juga meminta bantuan dari guru di sekolah agar si anak tidak mengulangi tindakan negatifnya tersebut. Di usia sekolah biasanya anak patuh pada gurunya.

Upaya yang harus dilakukan oleh orangtua untuk mencegah anak agar tidak mencuri sangat terkait dengan pendidikan dan pengawasan yang diterapkan. Orangtua harus mengajarkan nilai-nilai moral terhadap anak-anak sedini mungkin. Anak-anak akan belajar mengenai nilai-nilai sosial dari lingkungannya. Sedangkan lingkungan terdekat dengan masa kanak-kanak adalah orangtua. Ketika orangtua mampu menanamkan nilai-nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta menanamkan nilai-nilai tentang tindakan yang diterima oleh lingkungan sekitarnya, maka anak tidak mudah terdorong atau terpengaruh untuk mencuri.